The “X”

Three years ago we started something of unthinkable.

My 4th company – DyCode, a software development company – has been around 8 years at the time of this story. It’s already in a mature state, where the internal processes has been run well and automated without much of my interference. My highly appreciation to fellow top and middle layer management for making it happens. Then I asked myself, what’s next?

I have to admit that I get bored quite easily for something settled. Back in 2009, when DyCode’s offering and revenue around Line of Business (LoB) applications – that we built around web technologies, .NET, SharePoint, VSTO – got matured, I quickly got bored and chose to explore new technologies. By the launch of the first iPhone by Apple, then followed by the introduction of App Store and iPhone SDK in 2008, it marked the new wave of mobile application industry. I quickly explored the iPhone SDK, register to Apple’s iPhone developer program, developed boring sample projects that finally lead into our 1st iPhone application in May 2010, Movreak. Long story short, in 2010 DyCode was one of the first handful pioneers in iPhone application development in Indonesia, and started to offer custom app development services around it, which at that time we helped Astra International transitioning from legacy BlackBerry apps into iPhone OS-based apps. DyCode was fully transitioned into mobile apps development in 2012 by leveraging our expertise in iOS app development, that’s soon followed by other platforms: Nokia Symbian, MeeGo, S40, Series 60 (which all now already “dead”), then Windows Phone and Android.

Back to 3 years ago… Continue reading The “X”

The Proudest Moment of 2017

Seharusnya saya menulis cerita ini pada sebulan lebih yang lalu, tepatnya tanggal 18 November 2017, ketika salah satu peristiwa sangat penting terjadi. Menunda menceritakannya bukan disengaja, pun tidak bermaksud menganggap peristiwanya kurang bermakna. Hanya saja, perlu rasanya diceritakan secara lebih komprehensif, dimulai dari alasan terjadinya, untuk menghindari kesalahpahaman hahaha… And I just found the time to write about it during this year-end holiday.

Sekitar akhir September 2017, tiba-tiba datang sebuah pesan WhatsApp dari teman lama. Seorang teman seangkatan waktu berkuliah di Fisika ITB, yang sejak beberapa tahun lalu – tidak tahu persisnya – terpanggil untuk mengabdikan hidupnya sebagai dosen di Program Studi Fisika ITB. Bahkan seingat saya, setidaknya 6 teman seangkatan Fisika 99, memilih berkontribusi balik ke Fisika sebagai dosen, suatu pilihan yang sangat terpuji.

Kembali ke pesan WhatsApp tadi, isinya cukup mengejutkan. Bagaimana tidak, saya dinominasikan sebagai penerima penghargaan Alumni Berprestasi dari Program Studi Fisika ITB untuk FMIPA Award 2017, atas dasar kontribusi ke dunia Fisika melalui entrepreneurship. Wow! Ya, walaupun masih sekedar nominee, tapi setidaknya ada pihak yang me-recognize apa saja yang saya lakukan selama ini, yang mungkin saja bermanfaat, sehingga layak untuk dinominasikan. Itupun cukup berarti. Continue reading The Proudest Moment of 2017

Twenty Fourteen

2014 is one of the important year of my life, possibly the most. It’s the year that I decided to end my life as single entity, formally united with another entity named Gina.

(continued in Bahasa Indonesia)

I started the year with 200% focus on the wedding preparation. Terbiasa hidup mandiri dan menopang biaya hidup sendiri sejak kurang lebih 12 tahun lalu, cukup malu untuk minta bantuan orang tua, alhasil perlu membiayai pernikahan sendiri semuanya. Biayain bareng sama calon istri sih, tapi ternyata ideal wedding that I have in my mind butuh biaya yang lumayan. So, it’s been a challenging preparation.

Apparently, need more time to finish this post, will come back later. For now, I describe my 2014 life story in photos, here it is:

View in new window

 

Pantai Penyabong

Got a new spot sewaktu mudik lebaran ke Belitung tahun 2012 ini. Namanya Pantai Penyabong, terletak di Kecamatan Membalong, sekitar 60 km dari kota Tanjung Pandan, atau 100 km dari Kecamatan Kelapa Kampit, that’s where I live. Pantainya masih belum seterkenal Pantai Tanjong Tinggi, misalnya, tapi pantai ini  sungguh menyajikan pemandangan yang tak biasa. Rangkaian batu yang luar biasa besar dan menjorok ke pantai menjadikannya tempat yang luar biasa untuk spending time. Lihat sendiri foto-fotonya: Continue reading Pantai Penyabong